
Menjadi wanita karir bagi seorang wanita yang sudah berumah-tangga bukanlah perkara gampang. Harus pandai-pandai membagi waktu dan perhatian jika tidak mau keadaan menjadi timpang sebelah. Tetapi dalam kenyataannya memang sangat sulit membagi waktu dan perhatian antara pekerjaan dan urusan keluarga. Diperlukan jiwa besar dan kebijaksanaan lebih. Tapi bukan berarti tidak ada wanita yang bisa berhasil mengelola kedua hal tersebut. Banyak tentu perempuan yang bisa berkarir dengan sukses juga sekaligus bisa mengurus rumah tangga dengan baik.
Ukuran kesuksesannya tentu saja tidak sama untuk semua orang. Barangkali sukses dalam bekerja dapat ditandai bahwa di dalam melakukan pekerjaan dia merasa nyaman dan juga mendapat posisi yang baik dan sudah tentu dengan penghasilan yang baik pula. Dalam urusan rumah tangga yang berhasil dapat dilihat bahwa keluarganya (suami dan anak-anak) tidak berkeberatan jika dia bekerja, urusan rumah tangga dapat selesai walau harus meminta bantuan pihak ketiga misal pembantu atau saudara, anak-anak hidup sehat, pendidikan terjamin, suami juga terurus lahir dan bathin, dan yang terpenting komunikasi dengan keluarga inti berjalan dengan kualitas yang baik. Meski minimal 8 jam sehari meninggalkan rumah, jika perhatian dan komunikasi yang intens setiap harinya antar keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) dapat dipertahankan kualitasnya, maka keluarga akan baik-baik saja selama wanita bekerja di luar rumah.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan banyak wanita kini berkarir. Pertama, alasan ekonomi. Kedua, tentu saja aktualisasi diri. Sepanjang tujuan tersebut murni untuk kepentingan keluarga dan pengembangan diri maka mungkin berkarir tidak menjadi masalah.
Namun sebelum memutuskan berkarir barangkali wanita perlu mempertimbangkan buruk baik jika dia bekerja. Jika kebaikan dan manfaatnya lebih banyak silahkan meneruskan berkarir, namun jika mudharat / keburukannya lebih menonjol, maka lebih baik urungkan niat untuk berkarir.
Semua keputusan akhirnya memang ada di tangan wanita, tetapi pertimbangan keluarga inti juga jangan diabaikan.
Ukuran kesuksesannya tentu saja tidak sama untuk semua orang. Barangkali sukses dalam bekerja dapat ditandai bahwa di dalam melakukan pekerjaan dia merasa nyaman dan juga mendapat posisi yang baik dan sudah tentu dengan penghasilan yang baik pula. Dalam urusan rumah tangga yang berhasil dapat dilihat bahwa keluarganya (suami dan anak-anak) tidak berkeberatan jika dia bekerja, urusan rumah tangga dapat selesai walau harus meminta bantuan pihak ketiga misal pembantu atau saudara, anak-anak hidup sehat, pendidikan terjamin, suami juga terurus lahir dan bathin, dan yang terpenting komunikasi dengan keluarga inti berjalan dengan kualitas yang baik. Meski minimal 8 jam sehari meninggalkan rumah, jika perhatian dan komunikasi yang intens setiap harinya antar keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) dapat dipertahankan kualitasnya, maka keluarga akan baik-baik saja selama wanita bekerja di luar rumah.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan banyak wanita kini berkarir. Pertama, alasan ekonomi. Kedua, tentu saja aktualisasi diri. Sepanjang tujuan tersebut murni untuk kepentingan keluarga dan pengembangan diri maka mungkin berkarir tidak menjadi masalah.
Namun sebelum memutuskan berkarir barangkali wanita perlu mempertimbangkan buruk baik jika dia bekerja. Jika kebaikan dan manfaatnya lebih banyak silahkan meneruskan berkarir, namun jika mudharat / keburukannya lebih menonjol, maka lebih baik urungkan niat untuk berkarir.
Semua keputusan akhirnya memang ada di tangan wanita, tetapi pertimbangan keluarga inti juga jangan diabaikan.

No comments:
Post a Comment