Showing posts with label Social Life. Show all posts
Showing posts with label Social Life. Show all posts

Monday, August 4, 2008

WANITA KARIR (2-end)

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang Marketing Manager PT.Skypak / TNT. Sebut saja namanya Suzie. Dia seorang wanita yang menarik. Saat itu adalah kali pertama saya bertemu dan berkenalan dengan Suzie. Tapi karena pembawaannya periang dan sikapnya membuka diri maka saya cepat akrab dengannya sehingga waktu pertemuan yang sekitar 30 menit sudah banyak menerangkan informasi tentang dirinya.

Suzie seorang perempuan muda keturunan Tionghoa kelahiran kota Medan yang masih lajang. Dia baru bekerja di perusahaan yang sekarang sekitar 3 bulan. Namun sebelumnya dia sudah malang melintang di berbagai perusahaan di Medan juga di Jakarta. Katanya dia sangat sering berpindah kerja. Mungkin karena sikapnya yang periang dan cepat beradaptasi maka tidak sulit baginya untuk mendapat pekerjaan. Kukatakan padanya jangan terlalu sering bertukar tempat kerja, nanti tidak sempat cari jodoh. Dia cuma tertawa. Katanya dia suka tantangan maka jangan heran jika dirasakannya tantangan sudah berkurang maka dia akan mencari perusahaan lain yang bisa memberinya tantangan lebih.

Ketika kutanyakan apa target pekerjaannya saat ini. Aku rada kaget juga ketika dia menjawab bahwa dia menargetkan untuk posisi Direktur di perusahaannya yang sekarang. Wuihhh... hebat. Jarang aku berjumpa perempuan muda yang bercita-cita dan bersemangat seperti Suzie ini.

*****
Di lain waktu aku pernah diceritakan oleh seorang sahabat, bahwa ada kenalannya seorang wanita karir yang berhenti bekerja setelah melakukan negosiasi alot dengan suaminya. Ternyata akhirnya dia menemukan kehidupan yang sebenarnya bahwa tidak menjadi wanita karir merupakan karunia yang paling nikmat baginya. Bangun pagi dia tidak pernah lagi memikirkan target yang harus direalisasikan atau segudang laporan yang harus diselesaikan. Setiap hari kini terasa nyaman, menyiapkan urusan anak-anak dan suami tanpa dikejar-kejar deadline. Jika harinya membosankan dia bisa pergi menonton film, mengunjungi keluarga atau teman, atau menikmati layanan di saloon atau spa. Memang secara materi dan ekonomi dia tidak kekurangan karena suami tetap men-support-nya sebanyak penghasilan yang pernah dia peroleh ketika bekerja. Terlebih lagi kini dia semakin pandai bersyukur atas apa yang didapatnya.

Yang mana yang akan dipilih? Terserah anda.

WANITA KARIR (1)


Menjadi wanita karir bagi seorang wanita yang sudah berumah-tangga bukanlah perkara gampang. Harus pandai-pandai membagi waktu dan perhatian jika tidak mau keadaan menjadi timpang sebelah. Tetapi dalam kenyataannya memang sangat sulit membagi waktu dan perhatian antara pekerjaan dan urusan keluarga. Diperlukan jiwa besar dan kebijaksanaan lebih. Tapi bukan berarti tidak ada wanita yang bisa berhasil mengelola kedua hal tersebut. Banyak tentu perempuan yang bisa berkarir dengan sukses juga sekaligus bisa mengurus rumah tangga dengan baik.

Ukuran kesuksesannya tentu saja tidak sama untuk semua orang. Barangkali sukses dalam bekerja dapat ditandai bahwa di dalam melakukan pekerjaan dia merasa nyaman dan juga mendapat posisi yang baik dan sudah tentu dengan penghasilan yang baik pula. Dalam urusan rumah tangga yang berhasil dapat dilihat bahwa keluarganya (suami dan anak-anak) tidak berkeberatan jika dia bekerja, urusan rumah tangga dapat selesai walau harus meminta bantuan pihak ketiga misal pembantu atau saudara, anak-anak hidup sehat, pendidikan terjamin, suami juga terurus lahir dan bathin, dan yang terpenting komunikasi dengan keluarga inti berjalan dengan kualitas yang baik. Meski minimal 8 jam sehari meninggalkan rumah, jika perhatian dan komunikasi yang intens setiap harinya antar keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) dapat dipertahankan kualitasnya, maka keluarga akan baik-baik saja selama wanita bekerja di luar rumah.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan banyak wanita kini berkarir. Pertama, alasan ekonomi. Kedua, tentu saja aktualisasi diri. Sepanjang tujuan tersebut murni untuk kepentingan keluarga dan pengembangan diri maka mungkin berkarir tidak menjadi masalah.

Namun sebelum memutuskan berkarir barangkali wanita perlu mempertimbangkan buruk baik jika dia bekerja. Jika kebaikan dan manfaatnya lebih banyak silahkan meneruskan berkarir, namun jika mudharat / keburukannya lebih menonjol, maka lebih baik urungkan niat untuk berkarir.

Semua keputusan akhirnya memang ada di tangan wanita, tetapi pertimbangan keluarga inti juga jangan diabaikan.




Wednesday, July 23, 2008

MARRIAGE

Perkawinan bukan lah perkara main-main. Perkawinan menyatukan dua hati, dua keluarga, dua budaya dan yang lebih besar lagi dua dunia. Dunia yang berbeda dari seorang perempuan dan seorang laki-laki. Menyatukan dua dunia jelas bukan perkara mudah. Harus ada kasih sayang, ada tanggung jawab, ada toleransi, terakhir ada tujuan.

Dua orang bersatu menuju bahtera perkawinan lebih baik dengan dasar cinta & kasih. Tetapi ada juga lah yang katanya tanpa cinta, karena cinta katanya lagi bisa tumbuh sejalan dengan perjalanan perkawinan. Apa iya? Jika perkawinannya berjalan mulus dan cinta memang tumbuh, alhamdullillah. Tapi jika cinta nya tidak tumbuh-tumbuh, jalan di tempat, apa perkawinan seperti itu bisa bertahan? Entahlah. Yang jelas generasi Ibu Bapak kita banyak yang merasakan kehidupan perkawinan dengan awal tanpa cinta, lama-lama cinta juga, beranak juga sampai tua masih mesra.

Selain kasih sayang & cinta, harus ada tanggung jawab. Tanggung jawab dari siapa? Tentu tanggung jawab kedua belah pihak. Keduanya harus bisa bertanggung-jawab untuk apapun yang terjadi dalam perkawinan tsb, mau senang, mau susah merupakan tanggung jawab kedua pihak.

Toleransi diperlukan agar tanggung jawab dalam perkawinan tsb dapat lebih langgeng. Tanpa toleransi hanya akan muncul ke-egoisan saja.

Lalu tujuan untuk perkawinan pun merupakan hal penting yang harus dimiliki. Apa tujuannya? Tujuannya untuk ibadah kepada Allah SWT. Meneruskan garis keturunan. Jangan muluk-muluk dan tentu dapat dipertanggung-jawabkan dengan konsisten.

Apabila perkawinan sudah berjlan sekian tahun, misalnya 10 tahun lebih, maka situasi mungkin tidaklah seperti saat 5 tahun pertama. Masa 10 tahun telah membuat kita lebih akrab dengan pasangan, sehingga terkadang kita lupa bahwa dia adalah pasangan hidup kita. Sehingga terkadang kita lupa untuk memberi apresiasi terhadapnya, karena kita menganggap semuanya sudah biasa - biasa saja.

Pada saat begini maka sudah perlu kita kembali melakukan ta'aruf terhadap pasangan kita. Lakukanlah pengenalan kembali bagi pasangan kita. Kita sadari bahwa pasangan kita bukan lagi secara fisik pria / wanita yang langsing atau atletis seperti dulu. Dia sudah berubah bentuk, mulai gemuk, lemak bertebaran di mana-mana. Pasangan kita bukan lagi pria / wanita yang suka memuji / menyatakan cintanya setiap saat seperti dulu. Bahwa pasangan kita sekarang lebih sibuk urusan kantor, atau lebih sibuk mengurus anak / rumah dari pada kita.

Semua perubahan itu harus kita sadari kembali karena sejalan dengan waktu manusia memang berubah.Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Katakanlah perubahan fisik mungkin karena usia yang bertambah, suami sibuk atau istri sibuk dengan urusan masing-masing mungkin karena memang harus dilakukan karena tanggung jawab suami di kantor sudah lebih besar sehingga tentu berdampak pada penghasilannya untuk menopang ekonomi keluarga. Istri sibuk urusan anak-anak karena anak-anak sudah mulai besar sehingga diperlukan perhatian ekstra untuk mencegah dan menjauhi mereka dari hal - hal buruk dan pergaaulan bebas yang mungkin mereka lakukan di luar sana sebagai dampak dari kemajuan informasi.

Semua tentu saja harus tetap dikomunikasikan secara verbal antar pasangan agar saling pengertian dan proses ta'aruf kembali berjalan dengan baik.


Sunday, July 20, 2008

What a hard life is......

Memang hidup di zaman kini sudah sangat berat. Seorang Ibu dari etnis China di angkot pagi tadi berceloteh bahwa dagangannya di pajak / pasar Sambas akhir - akhir ini sangat seret. Sementara kebutuhan terus meningkat. Mulai dari kebutuhan sekolah anak - anak, hingga keperluan rutin untuk bayar segala macam tagihan, listrik, air, telepon, dan biaya makan harian. Apalagi sekarang BBM sudah naik, jadi semua kebutuhan mendasar pun menyesuaikan harga.

Ya mau dibilang apa? Bagi pedagang pembeli adalah harapannya, tapi pembeli pun sekarang sudah ngos-ngosan untuk membeli kebutuhan. Syukur kebutuhan primer masih dapat dipenuhi, yang sekunder nanti-nanti dulu lah urusannya.

Bagi pegawai (negeri & swasta) gaji yang diterima slalu tidak cukup untuk sebulan, paling banter setengah bulan habis, sisanya harus ngutang sana-sini. Akhirnya gali lubang tutup lubang tidak terhindari.

Hidup sudah cukup berat. Tapi akan lebih berat jika kita melihat di kiri kanan kita masih ada orang - orang yang melakukan hal - hal yang berlebihan, makan di restoran mahal, membeli produk fashion tidak tanggung - tanggung. Memang mereka menggunakan duit pribadi, tapi mbok ya ada empati sedikit dong buat yang hidupnya pas-pasan.

Hidup terasa makin berat di zaman edan ini. Apalagi jika kita tidak pandai bersyukur. Ya bersyukur bahwa kita masih diberi kesehatan agar besok kita dapat mengail rezeki kembali. Nikmat kesehatan akan lebih bermanfaat jika dipergunakan untuk meraih rezeki yang halal. Jadi supir angkot, tarik becak, jual baso, loper koran dll. Pekerjaan semacam itu adalah pekerjaan marginal, tapi halal dan menjadi berkah jika melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur. Mudah-mudahan dengan rasa syukur yang dalam besok hari rezeki akan lebih baik.

Amin ya Rabb.